Langsung ke konten utama

Postingan

11 Tahun Kepergian Chrisye, Mengekalkan Daya Hidup Sang Legenda

Chrisye adalah legenda musik pop Indonesia. Kepergiannya 11 tahun silam ditangisi tak hanya oleh keluarga, tapi juga insan musik dan para penggemar setianya. Dunia hiburan musik berduka. Pemilik nama asli Chrismansyah Rahadi itu berusia 57 tahun ketika berpamitan dari panggung dunia fana menemui sang khalik di anjangsana keabadian. Segudang cerita bersama tebaran wangi bunga mengiringi pelepasannya pada hari itu, Jumat tanggal 30 Maret 2007. Kehidupan Chrisye bisa dibilang sangat mengharu-biru layaknya lagu yang melambungkan namanya,   Lilin-lilin Kecil. Dia berpendar-pendar. Kadang meredup tersaput angin, hingga membuat cemas banyak orang, dan menghangatkan suasana di waktu lain. Di film biopik Chrisye (2017), sosoknya ditampilkan dengan cukup apik oleh aktor Vino G Bastian. Banyak hal yang selama ini tersembunyi di balik penampilan dan gaya hidup anak band, yang kemudian mendapat peluang menjadi penyanyi solo itu. Sutradara Rizal Mantovani meracik film produksi MNC Pi...

Saat Joan & Ayu "Idol" nembang Come Together

Panggung Top 10 Spektakuler Show Indonesian Idol pada hari Selasa (13/2/2018) malam sangat berarti dengan penampilan duet Joan dan Ayu. Lagu  Come Together milik The Beatles begitu segar mereka bawakan dengan karakter vokal berbeda. Sajian malam itu benar-benar memanjakan alat pandang dengar penonton di dalam mau pun di luar studio. Ada makna tersirat dari aksi Joan dan Ayu, yang menunjukkan semangat persatuan, kebersamaan, untuk menjadi yang terbaik; new Indonesian Idol!. Panggung malam itu secara tidak langsung menjadi saksi betapa kuat sikap saling menjaga secara estetika dan artistik. Joan menggebrak meraung di bait pertama (dari empat bait) lagu ciptaan John Lennon tersebut. Gadis berambut keriting kontestan asal Papua itu langsung menguasai panggung acara yang disiarkan oleh stasiun televisi RCTI. Tubuh Joan relatif berat cukup sepadan dengan rasa percaya dirinya. Dia cantik lincah bergerak, enerjik dan tentu saja powerfull bernyanyi dengan langgam vokal gospel-...

Hidup Terkadang Ngehek, Kawan!

Tidak semua rencana yang kita rancang selalu berjalan linier. Sangat mungkin ada ganjalan. Sebab, roda kehidupan berputar. Sebuah pesan Whatsapp , pada pertengahan Januari 2018 mampir di gawai cerdas saya. Isinya cukup membetot pikiran, seperti menjambak posisi dari tempat yang saya rasa cukup ideal selama belasan tahun di perfilman. Mungkin saya terlalu asik, atau terlena di dalamnya. "Saya sudah dapetin fotomu dari facebook untuk dibikin ID Card. Tinggal foto KTP yang harus dikirim. Sekarang, ya," perintah tertulis dari Fawzie, teman lama di Harian Terbit . Di koran sore milik Menteri Penerangan Harmoko -- sebelum dijual ke pihak lain tahun 2014 -- itu Fawzie bertugas di bagian pemasaran dan periklanan. Sebuah foto ID Pers (kartu pengenal) menyusul dibawah "perintahnya". Kartu pengenal itu bertuliskan nama Koran OK OCE.  Di bagian bawahnya terpasang foto close up  wajah saya produksi tahun 2011. Lalu di bawahnya lagi tertulis nama dan jabatan: REDAKT...

Merawat Ide Sejak Dalam Pikiran

Ketika mulai menulis ini, saya membayangkan suasana di dalam biskota Jakarta sebelum ada busway yang nyaman. Saya mengalami sebagai pengguna biskota waktu itu; gerah, penuh aneka aroma parfum dan bau badan. Semua bercampur aduk. Penumpang bis adalah ide yang setiba di terminal (seperti Pulo Gadung) yang apatis dan berhamburan mencari udara segar. Penumpang meloncat berdesakan tak mau berlama di dalam bis. Sumpek! Ide yang dibiarkan menumpuk berkerumun akan menjadi lumut, kering dan mati. Dia harus dikeluarkan agar mendapat oksigen dan tidak menjadi angan-angan kosong. Seringkali gagasan muncul pada waktu dan tempat tidak tepat. Seperti halnya penumpang biskota tadi. Jika datang ide biasanya saya salurkan ke dalam tulisan, senandung lagu-lagu dengan gitar. Prinsipnya ide harus diberi tempat. Tapi tak selalu keberuntungan berpihak, seperti juga tidak selalu kemalangan setia datang menemani. Tak jarang saya lihat kematian atas ide-ide saya sendiri. Kematian itu karena merek...

Nongkrong Progresif With Bens Leo

Sebagai jemaah media sosial, sesekali saya berinteraksi dengan mas wartawan senior Bens Leo di jejaring facebook dan instagram . Di luar pertemuan itu, sekelumit saja saya berjumpa dengan sosok yang sering menjadi narasumber berita musik itu. Sejatinya, kesibukan beliau tak melulu di musik tapi juga di film dan kebudayaan. Aksesnya cukup luas sampai ke pejabat lingkaran tengah politik. Tapi passion nya tetap lebih di musik. Minimal sebulan duakali kami bertemu baik sengaja atau tidak disengaja. Mohon dimaafkan.. Yang agak istimewa, pertemuan kami pada Kamis (1/2/2018) sore di Senayan City, Jakarta Selatan. Hujan baru selesai di luar sana. Saya diajak ngobrol lesehan di karpet selasar bioskop. Nongkrong genre progresif saya menyebutnya. Ini pertemuan kesekiankali saya dengan mas Bens Leo (selanjutnya saya singkat dengan MBL) yang saya kenal sejak memasuki dunia wartawan tahun 1990an. Saya masih unyu2 waktu itu,  MBL sudah seperti sekarang. Maksudnya, saya kenal dulu s...

Kamus Olok-olok Politik Dunia Maya

Apakah anda golongan Bani Taplak, Bani Onta, Cebong, Cebonger, Kodok, kaum bumi datar, kaum sumbu pendek, otak micin, Jokower, Ahoker atau Wowoker ? Dari golongan manapun Anda, sebaiknya pahami dulu arti istilah-istilah itu agar tidak salah tulis dan sebut saat memaki. Karena memaki di dunia maya, sama seperti di dunia nyata: pakai aturan. Dasar aturannya UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) atau Undang Undang nomor 11 tahun 2008. Undang-undang ini mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum. Maka hati-hatilah dengan jempolmu karena dia bisa menjebloskanmu ke penjara. Istilah-istilah yang disebut diawal tadi, hanya beberapa dari yang seliweran di timeline jejaring sosial. Mereka yang alergi atau malas membaca kegaduhan politik di dunia maya pasti tertinggal informasi ini. Istilah tersebut menjadi bahasa "resmi", penyambung syaraf perang antara para pendukung dua kubu politik. Seperti kita tahu, p...

Urus STNK Cepat Tanpa Calo di Bekasi

Sebelum mengurus sendiri perpanjangan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) mobil pada Senin (22/1/2018) siang, saya masih punya anggapan bahwa pola pelayanan di tempat itu dikuasai oknum calo (cabang loket) . Ternyata saya keliru. Jika persyaratan baku sudah lengkap ( fotocopy dan asli KTP, STNK, dan BPKB) maka petugas sekuriti di front office  akan membantu menyusun berkas-berkas yang kita bawa tersebut serta informasi lainnya, tanpa ada calo di sekitarnya. GOR Bekasi (tis)  Pernah di masa lalu, saya senewen dan nyaris stress saat mengurus perpaniang STNK motor di kantor Samsat Jl Daan Mogot, Jakarta. Bagaimana tidak, jika petunjuk dan info persyaratan tak jelas ada dimana. Keberadaannya sangat menantang adrenalin dan gelap. Kondisi itu membuat saya berimprovisasi saat menyusun berkas persyaratan yang jadi "rintangan" yang tak kalah menggetarkan. Jika kita salah menaruh letak fotocopy satu berkas saja, misal STNK di bagian bawah KTP atau sebaliknya maka hal ...

Gaduh Beras Impor

Proses menanam padi di sawah Desa Simo,  Boyolali, Jawa Tengah. (tis)  Mendadak beras jadi isu nasional di antara ratusan berita di media massa dan media sosial. Mulai dari pejabat level menteri sampai petani bicara soal beras. Ada apa, gerangan? Konon stok beras Indonesia sudah menipis. Pemerintah tak mau terlihat kendor di hadapan hoaxer.  Isu ditepis terlanjur berkembang, rakyat meringis petani pun gamang. Sementara masih ramai berdiri warung Tegal, warung Padang, restoran siap saji, warung pecel lele, gerobak angkringan dan kafe-kafe penjual kuliner berbahan dasar beras. Saya sebetulnya  masa bodo amat . Selama beras (putih) bisa dibeli, tak perlu khawatir. Tapi kali ini urusan beras agak menghantui sejak melek mata sampai mau tidur. Bukankah selama ada tempat jajanan kuliner, itu pertanda Indonesia aman soal pasokan beras? Setidaknya ini pandangan awam saya. Belum lama di Papua, puluhan warga suku Asmat meninggal dunia akibat terserang campak dan g...

Out Of The Press

Jumat (12/1/2018) seorang kawan -- mantan wartawan yang juga pegiat sastra -- mem posting tempat kerjanya yang baru. Dia menggelar lapak pakaian di lapangan dan siap memulai sebuah perjalanan bisnis. Nanti saya akan cerita soal kawan saya ini. Dua pekan sebelumnya, beberapa teman wartawan menandai saya di postingan akun Facebook mereka. Saya juga melihatnya di Instagram . Postingan  produk kopi kemasan merk "Aloya" itu berbahan baku kopi dari Temanggung, Jawa Tengah lalu dibawa ke toko di Medan, Sumatera. Produk kopi ini milik Susi Ivvaty mantan wartawan pegiat sastra dan kebudayaan. Seorang teman wartawan lainnya, Agus Asianto dan Frieta istrinya juga memperkenalkan bisnis kuliner merek "Ayam Gosong" di Depok, Jawa Barat. Sebulan yang lalu dia mengunduh info menu baru tersebut di dinding akun Facebook miliknya. Menurut yang sudah mencicipi ayam goreng ini, rasanya enak dan gurih. "Gosong cuma namanya saja, mungkin karena sebelum dimasak diren...

Passion Dan Kesempatan

Sering menyimak pergaulan orang-orang film, membuat saya agak kebal sanjungan, tidak mudah GR  ( gedhe rumongso/ gede rasa) disebut 'punya tampang' menjadi pemain film. Bahkan, ketika seorang produser film ngasih kode kesempatan itu, saya abaikan. Bukannya sok jual mahal, juga bukan minder tapi bisikan dalam hati melarang saya berada di sana saat itu. "Nanti-nanti sajalah," begitu saya membatin. Tahun 2015 ada yang menawari saya berbisnis mengelola bioskop. Tertariklah saya, tapi belum tergugah. Padahal yang menawari jagoan bioskop. "Lain kali saja," kata saya menolak halus. Kesempatan itu saya syukuri. Pertama, karena saya dianggap mampu di bidang yang tidak pernah terlintas di benak. Kepercayaan orang kepada kita adalah doa yang baik, jadi wajib diaminkan. Amin.. Kedua, saya bersyukur karena tawaran/ kesempatan itu hanya sebagian dari yang saya ambil dan lewati. Artinya, banyak kesempatan dari lingkup industri perfilman. Tetapi kita tidak selalu...

Difteri dan Kencing Unta

Waktu mau sarapan tadi, Ajeng anak saya bercerita soal rencananya disuntik vaksin difteri di sekolah. "Aku harus makan banyak sekarang, pah. Kata Bu Guru, ntar mau disuntik difteri," katanya sambil menyimak saya menggoreng nasi kesukaannya di dapur, Senin (8/1/2018) pagi. Meracik nasi goreng relatif praktis, hanya mencampurkan bumbu  sachet-an , telur dan nugget  maka jadilah. Jangan lupa beri sedikit kecap manis, agar lebih sempurna. Kalau lagi iseng, seperti pagi itu saya sigap main di dapur. Salahsatu keahlian saya selain memasak air, goreng kerupuk, bikin telur dadar/ ceplok, ya bikin nasi goreng. Pernah juga membuat kepala ikan kakap bumbu kuning hasil menyontek menu di internet. Rasanya lumayan mirip seperti di warung Padang. Setidaknya menurut lidah saya, dan orang rumah tidak ada yang komplain. Biasanya saya mengolah sendiri bumbu yaitu cabe rawit, cabe merah, bawang merah, bawang putih, sedikit terasi dan garam diulek halus. Setelah itu panaskan minyak p...