SAYA sebal dan mengutuk aksi radikalisme yang mengorbankan anak-anak, apalagi demi membunuh mereka yang berbeda agama, dan mengatasnamakan bela agama. Radikalisme berpotensi memperkeruh kedamaian antarumat beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kerusuhan di Markas Korsp Brigadir Mobil (Mako Brimob) Kelapadua, Depok, Selasa (8/5/2018) membetot perhatian saya dan kita semua. “Lima polisi gugur, seorang teroris tewas”. Kelima polisi itu disebut “mati syahid” oleh sebagian orang karena on duty menjalankan tugas negara dan bekerja untuk keluarga. Saya setuju itu, dan ikut mendoakan semoga husnul khotimah . Apakah teroris yang tewas perlu didoakan? Saya ragu. Ragu apakah doa saya akan dikabulkan Tuhan, juga ragu pada keyakinan si teroris meski kemudian muncul perdebatan di ranah sosial, tentang keagamaan teroris. Dari Mako Brimob, aksi brutal sporadis teroris berlanjut di tiga gereja Surabaya (Minggu, 13/5/2018), Mapolr...
Melekat di setiap sudut hati dan pikiranmu, jika tidak, abaikan deskripsi ini