Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Nasihat orang gila - Cerpen

Aku orang gila bersertifikat resmi. Segala hal yang berkaitan dengan kegilaan adalah milik dan duniaku. Cap sebagai orang gila, yang ditunjukkan orang-orang, melalui sikap dan ucapan mereka kepadaku, adalah bentuk apresiasi yang membanggakanku. Kalau ada orang gila di jalanan, atau orang mengaku gila tapi tak bisa menunjukkan sertifikat kegilaannya, maka belum sah secara hukum. Sebagai orang gila yang berbadan hukum, tentu saja aku mendapatkan hak  previlage,  istimewanya kemudahan akses memasuki semua lini kehidupan sosial dan politik.  Kadar gilaku berbeda dengan kebanyakan orang gila. Itu bisa kubuktikan dengan sertifikat gila yang kumiliki. Apa aku bangga dengan kegilaanku, yang sudah mendapat pengakuan secara nasional? Yaiyalah. Sertifikat yang kuterima dari Asosiasi Orang Gila sudah kubingkai dengan cantik di dalam kaca bening, kupajang di tembok ruang tamu rumahku, supaya mereka yang datang tahu siapa aku sebenarnya. O, ya hampir saja lupa, ke...

Orang di Tugu Pancoran - Cerpen

Patung-patung di Jakarta punya cerita. Meski mereka berbeda wilayah kekuasan, sebenarnya masih bersaudara. Etnis dan tulang-darah mereka sama; terbuat dari perunggu, besi dan tembaga. Partikel jenis logam ini yang menjadikan patung di Jakarta mampu berdiri hingga ratusan tahun, sejak kolonial Belanda menguasai Batavia. Lelaki kusam dan rokoknya itu sudah kembali di tempatnya. Setiap hari sejak di PHK enam bulan lalu, dia berada di tempat itu, dengan tingkah yang sama. Dia menatap langit. Kakinya berdiri di bawah patung Tugu Pancoran. Sore itu hujan turun dan jalanan macet total akibat semua kendaraan mau lewat pada jam yang sama. Musim hujan di bulan April 2017 disertai badai. Ruas jalan di Jakarta menjadi lahan parkir kendaraan dan manusia. Lelaki itu terus menengadahkan kepalanya ke langit. Dia mencari-cari wajah patung yang diajaknya berbicara. Apapun yang terjadi dengan Jakarta, rapat malam ini harus kita tuntaskan. Ini sudah final. Tidak bisa menunggu persetujuan dew...

Perempuan yang selalu tersenyum di kereta - Cerpen

KALAU tidak ada teman diajak bicara di kereta, aku lebih suka membuka handphone . Semua ada di alat komunikasi mutakhir bernama telepon pintar atau smartphone itu. Semua orang rasanya punya dan selalu membawanya. Malam saat penumpang didera lelah dan kantuk, mereka punya alasan untuk terlihat sibuk dengan telepon selularnya masing-masing. Sebagian dari penumpang ada yang berusaha menyembunyikan letihnya, dengan menampilkan wajah merona dan tersenyum. Tapi senyum itu bukan untukku, melainkan untuk telepon di genggamannya. Mungkin dia mengajak ngobrol pacarnya, teman dekat, suami, istri, anak atau siapapun di telepon itu. Mana kutahu?   Tidak sedikit penumpang yang memaksakan diri supaya terlihat manis dan ganteng. Padahal dari tadi kulihat mereka menguap berkali-kali. Ada juga yang senyumnya manis dan asli. Jika ada yang seperti itu, mata jadi malas terpejam. Malam itu kereta listrik yang kutumpangi siap berangkat dari stasiun Manggarai ke Bekasi. Di saat melangkah m...

Kenyataan itu aku - Cerpen

Setelah menerima email dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Zagreb, Kroasia sebulan yang lalu, semalam dia ditelepon oleh seorang petugas KBRI Beograd, ibukota Serbia. Sang petugas memperkenalkan diri melalui pesan Whatsapp , yang diakhiri minta izin menelepon. Ini seperti sebuah canda tetapi serius. Kenyataan kadang unik, dan terkadang menggetarkan. Dia tercenung setelah si penelopon mengucapkan salam dan terimakasih. Malam di Indonesia jam 23.00 WIB sedangkan di Beograd lebih lambat 6 jam. Dia bertanya-tanya dalam hati, dan memorinya melompat ke masa lalu. Apakah dia dipermainkan oleh harapan manis ataukah kenyataan? *** Siapa pun tidak mengira jika anak laki-laki yatim yang nakal di masa kecilnya itu sering menyendiri. Bukan karena dia ingin, tapi situasi yang membuatnya begitu. Sampai pada suatu hari, saat dia menyendiri, jiwanya tergerak untuk melompat keluar dari jendela kamar di lantai atas rumah pakdenya. Bukan, bukan ingin bunuh diri, tapi da...