Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label wartawan

5000 Warga Ciputat Naik Busway Transjakarta

Silakan konfirmasi soal jumlah pengguna busway dari dan ke Ciputat, Tangerang Selatan setiap harinya. Data resmi dari bibir seorang petugas kondektur Transjakarta rute Bunderan Senayan - Ciputat menyebutkan, ada 5000 penumpang per hari di trayeknya. Pada Senin (11/3/2019) malam, usai menghadiri screening film The Sacred Riana karya terbaru sutradara Billy Christian di Studio XXI Plaza Senayan, saya loncat ke halte busway Bundaran Senayan kemudian naik ke arah Ciputat. Waktu pintu busway yang padat penumpang itu terbuka, kondektur menyembur keluar dan bersuara keras: "Silakan masuk bagi yang merasa muda, kuat berdiri, dan langsing," kata petugas berseragam itu. Saya dan rekan Herman Wijaya sudah berimpitan dengan para penumpang lainnya ketika pintu bus ditutup. Informasi awal dari sang kondektur tadi sebenarnya terdengar agak lucu, tapi cukup tegas dan lugas. Mengapa? Karena di dalam bus, selama perjalanan saya perhatikan para penumpang yang berdiri. Mereka c...

Syuting Bareng Tiga Wartawan Senior di Metro TV

Panelis Q&A: Sudjiwo Tejo, Bens Leo, saya, Maman Suherman, Mc Daddy, dan Indra Bekti.  Lantai 3 Studio Grand Metro TV pada Selasa (30/1/2019) siang mengingatkan saya pada artis musisi Ahmad Dhani, yang baru dipenjarakan atas kasus ujaran kebencian. Tujuh tahun lalu, di acara 8-Eleven pada 3 Maret 2011 saya bertemu  dengan boss Republik Cinta Management itu, di obrolan membahas kekerasan yang dilakukan Dhani pada juru kamera infotainment dari Global TV. Sehari sebelumnya, Dhani dipanggil oleh Dewan Pers. Diskusi hangat itu dipandu presenter cantik Marissa Anita dan si ganteng Tommy Tjokro. Saya diundang oleh Metro TV mewakili Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ditemani Eko Maryadi dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Dhani mengaku tidak melakukan kekerasan seperti diberitakan media, dan dia punya tim infotainment sendiri yang dipeliharanya. Hanya saja tidak disebut mana saja infotainment binaannya itu. Selesai syuting siaran langsung itu, kami berfoto ria. To...

Kisah Hadirnya Wartawan di Usmar Ismail Awards

Koran Harian Terbit milik PT Surya Kota Jaya (Grup Poskota) berpindah tangan ke pengelola baru pada tahun 2014. Seluruh awaknya termasuk saya, yang selama 20 tahun lebih bekerja di sana mendapat uang sangu. Pembelinya adalah politisi partai Gerindra. Manajemen koran sore yang sempat booming di awal 1990 (saat perang Teluk) dan terbit sejak tahun 1972 itu, salahsatunya teman lama saya. Sejak ada kabar akan terjadi eksodus karyawan dan wartawan, dia sering nelpon dan chat di BBM ( Blackberry Messanger ). Dia ikut sibuk ketika proses awal 'pindah gerbong', dan minta rujukan tentang siapa saja yang bisa diangkut ke gerbong baru. Saya dianggap paham soal Sumber Daya Manusia. Hihi .. Berceritalah saya, dan dia percaya. Sepertinya. Dia ngasih kode, ada peluang posisi jadi redaktur kalau saya mau ambil. Akhirnya, dia tidak pernah nelpon atau kirim BBM karena saya tidak merespon secara saksama dan dalam tempo yang sesingkatnya. Tapi, ocehan saya tentang siapa saja personel ya...

Out Of The Press

Jumat (12/1/2018) seorang kawan -- mantan wartawan yang juga pegiat sastra -- mem posting tempat kerjanya yang baru. Dia menggelar lapak pakaian di lapangan dan siap memulai sebuah perjalanan bisnis. Nanti saya akan cerita soal kawan saya ini. Dua pekan sebelumnya, beberapa teman wartawan menandai saya di postingan akun Facebook mereka. Saya juga melihatnya di Instagram . Postingan  produk kopi kemasan merk "Aloya" itu berbahan baku kopi dari Temanggung, Jawa Tengah lalu dibawa ke toko di Medan, Sumatera. Produk kopi ini milik Susi Ivvaty mantan wartawan pegiat sastra dan kebudayaan. Seorang teman wartawan lainnya, Agus Asianto dan Frieta istrinya juga memperkenalkan bisnis kuliner merek "Ayam Gosong" di Depok, Jawa Barat. Sebulan yang lalu dia mengunduh info menu baru tersebut di dinding akun Facebook miliknya. Menurut yang sudah mencicipi ayam goreng ini, rasanya enak dan gurih. "Gosong cuma namanya saja, mungkin karena sebelum dimasak diren...

Politik kecil wartawan tengil

Ngopi di Manggar, Belitung tahun 2011 Pada hari saya bertemu Andrea Hirata, novelis terkenal bertopi baretta di Bumi Laskar Pelangi, Belitung, itu pertemuan kesekian kalinya dengan si Ikal dalam cerita novel Laskar Pelangi karyanya yang sangat monumental. Novel itu menggerakkan hampir seluruh sudut kehidupan negeri, pasca difilmkan oleh Riri Riza dibawah perusahaan Miles Films milik Mira Lesmana. Seperti bola salju, hasil buah pikir dan endapan hati Andrea Hirata itu menggelinding bertenaga, menyumbangkan kebanggaan. Dan tentu saja pemerintah kota Belitung rela membukakan pelabuhan khusus bernama Pelabuhan Laskar Pelangi di Tanjung Pandan. Sehari setelah peresmian pelabuhan pada Sabtu, 11 Juni 2011, Andrea Hirata mengajak wartawan film dan kebudayaan. Saya diundang oleh penerbit buku, dan ikut menapaktilasi lokasi syuting film Laskar Pelangi di pantai Kelayang, serta menikmati hangatnya kopi Manggar di malam hari. Jamuan itu mengesankan, tapi saya lebih terkesan dan terke...