Sering menyimak pergaulan orang-orang film, membuat saya agak kebal sanjungan, tidak mudah GR ( gedhe rumongso/ gede rasa) disebut 'punya tampang' menjadi pemain film. Bahkan, ketika seorang produser film ngasih kode kesempatan itu, saya abaikan. Bukannya sok jual mahal, juga bukan minder tapi bisikan dalam hati melarang saya berada di sana saat itu. "Nanti-nanti sajalah," begitu saya membatin. Tahun 2015 ada yang menawari saya berbisnis mengelola bioskop. Tertariklah saya, tapi belum tergugah. Padahal yang menawari jagoan bioskop. "Lain kali saja," kata saya menolak halus. Kesempatan itu saya syukuri. Pertama, karena saya dianggap mampu di bidang yang tidak pernah terlintas di benak. Kepercayaan orang kepada kita adalah doa yang baik, jadi wajib diaminkan. Amin.. Kedua, saya bersyukur karena tawaran/ kesempatan itu hanya sebagian dari yang saya ambil dan lewati. Artinya, banyak kesempatan dari lingkup industri perfilman. Tetapi kita tidak selalu...
Melekat di setiap sudut hati dan pikiranmu, jika tidak, abaikan deskripsi ini