Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label esai

Tugas untuk Indonesian Movie Week di Kroasia

Surat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Zagreb, tiga bulan silam, saya terima sukacita. Surat berkop lambang burung Garuda itu berlapis empat, tentang rencana Indonesian Movie Week pada 2-10 Juni 2017 di Kroasia. Undangan belum dilengkapi  rundown , film peserta juga nama-nama delegasi, kecuali ittinerary yang bersifat umum. Adalah Bambang Drias, sutradara film yang pada pertemuan pertama kami untuk membahas  Ihwal Indonesian Movie Week, dia mengaku beberapa kali mengontak saya, tapi sulit terhubung. Ketika kami bersua, dia menjelaskan, bahwa IMW yang digagasnya itu mendapat respons dari KBRI Zagreb. Dia menerima mandat dari pihak KBRI Zagreb untuk membentuk pelaksana acara. Bambang merasa tak dapat bekerja sendiri, selain karena dia sudah punya jadwal syuting film terbarunya pada Juni 2017. Atas alasan tersebut, sutradara film Erau di Kota Raja, Gending Cinta di Tanah Turki, dan Promise itu meminta saya menggantikan tugasnya di IMW Kro...

Soal e-KTP

TIDAK ada yang lebih penting dan menakutkan penduduk Indonesia dibanding tidak punya Kartu Tanda Penduduk. Jamak juga disebut katepe , atau biasa ditulis KTP. Dia, KTP itu wajib dibawa orang dewasa, berdasarkan hitungan usia nasional, bukan secara hormonal.  Orang yang secara hukum agama Islam disebut sudah akil baliqh , sudah ‘mimpi basah’ berkali-kalipun, kalau belum cukup umur kata negara, minimal 17 tahun, nggak bakal dikasih KTP sama petugas kantor kelurahan. KTP menjadi gaya hidup sekaligus kebutuhan, selain sandang pangan dan papan. Tidak makan, tidak bersandang asal punya KTP masih memungkinkan untuk melanjutkan hidup. Tidak punya papan, kalau pegang KTP tetap bisa berteduh. Lepas dari itu semua, KTP adalah identitas sebuah bangsa. Yang tidak punya, patut dicurigai caranya berbangsa. Banyak orang yang menilai KTP sebagai simbol nasionalisme. Sehingga yang tidak punya KTP perlu diwaspadai nasionalismenya. Dalam tingkat sosial yang lebih tinggi lagi, tidak punya ...

Apes atau sue’ kata orang Betawi

Kita pasti punya persoalan hidup dari yang ringan sampai berat tak terangkat. Tapi, pernahkah anda alami yang dalam terminologi orang Betawi atau Jakarta lama disebut sebagai kondisi sue’ , alias apes atau sial? Inilah momen histeris yang dapat membuat 'tergila-gila’... Ini pengalaman saya. Malam sebelum tidur, lampu penerang kamar saya putus. Mau beli gantinya di toko sudah tutup. Jadi, saya putuskan beli lampu besok sambil antar istri ke pasar. Paginya, tubuh terasa segar. Karena ini hari Minggu. Kata bang Rhoma Irama harus dibawa santai. Nyok kita santai.. Jam 09.00 saya siap beli lampu + mengantar juragan mami ke pasar. Motor saya starter,  sekali injak pedal langsung hidup. Saat saya nemplok di jok motor terasa ada yang tidak beres. Saya tengok ke arah bawah belakang, ternyata ban belakang motor kempes. Pagi itu saya pergi ke penambal ban yang berjarak sekitar 1000 meter. Beres langsung jemput 'klien' di rumah.. Singkat cerita, saya dapat lampu baru dan ...

Ketagihan donor darah

Ketika ngemil ransum di ruang pantry kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Jl Kramat Raya Jakarta, Senin (6/2/2017) saya kembali teringat pertama donor darah tahun 1988. Berbeda dengan tahun saat saya remaja (umur 19 tahun) itu, hari ini di ruangan utama PMI Pusat, pendonor bisa berbaring rileks di tempat rebahan yang ergonomis, menyesuaikan lekuk punggung. Nyaman. Proses transfer darah ke kantong darah pun mengalir tenang. Dulu, kasur terbuat dari bahan matras yang bertekstur rata. Kurang nyaman untuk badan. Hanya bagian kepala bisa digerakkan naik turun sesuai kebutuhan donatur. *** Dari beberapa artikel tentang darah, tubuh manusia dewasa menyimpan rata-rata 4,5 sampai 5,5 liter darah. Pendonor dengan berat badan diatas 50 kg, biasanya diambil darah antara 350-400 cc (atau ml). Dari catatan buku anggota PMI sampai hari ini, sudah 33 kali saya mendonorkan darah. Taruhlah, rata-rata sekali datang mendonor, darah saya diambil 350 ml. Jika dikalkulasi, 350 ml x 33 =...

Usmar Ismail Awards dan Matinya Toekang Kritik

Pada 2 April 2016 berlangsung ajang penghargaan Usmar Ismail Awards (UIA) yang pertamakali di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Acara meriah disiarkan langsung oleh stasiun Trans7, dengan backdropp panggung sebuah logo besar produk makanan 'Bakmi Mewah'. Keterlibatan wartawan sebagai juri acara ini sangatlah menentukan. UIA berbeda dengan awarding lain yang umumnya melibatkan masyarakat umum dan profesi perfilman sebagai juri. Dilibatkannya wartawan dan kritikus film sebagai juri UIA diharapkan memberi efek 'keamanan'. Wartawan menjadi garda terdepan ( bumper ) demi membangun citra Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) sebagai penyelenggara, yang sebelumnya tidak dikenal oleh publik. Forum Pewarta Film (FPF) sebagai pelaksana di Bidang Penjurian dan Kehumasan UIA 2016 menjadi ujung tombak bagi UIA 2016. FPF terdiri dari kalangan wartawan dan kritikus film aktif, memperkuat bargaining UIA ketika mencari sponsor baik dari pihak swasta (Cinema XXI, PT...

FFI 2016 rampung tanpa gaung

PESTA orang film dalam kenduri Festival Film Indonesia (FFI) 2016 rampung tanpa gaung. Namun, ada jejak yang tercecer berupa foto dan komentar di media sosial yang dilontarkan sejumlah artis merangkap panitia, juri, dan undangan Malam Anugerah Piala Citra itu sendiri. Tak hanya melampiaskan rasa bahagia dengan berfoto selfie dan wefie , orang-orang film juga curhat tapping delay dan pemotongan tayangan “Malam Puncak FFI” yang disiarkan RCTI, Minggu (6/11/2016) malam, saat acara berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lebarannya orang film ini sejatinya proyek pemerintah yang diamanatkan Undang Undang Perfilman No 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Tahun ini adalah tahun ketiga FFI ditangani oleh Badan Perfil-man Indonesia (BPI). Pembentukan BPI difasilitasi dan disahkan oleh pemerintah pada penghujung tahun 2013. Sedikitnya ada 40 lembaga/ asosiasi bergabung di BPI sebagai stakeholder perfilman. Sayangnya, lebih dari se-paro asosiasi yang tergabung di BPI tidak ...

Ahok dan bioskop

AHOK menistakan agama Islam, kata berita. Saya tak tertarik membahasnya dan malah teringat saat bersemobil dengan Ajun, warga Tionghoa di Bangka-Belitung, beberapa bulan lalu. Dia lahir, besar dan bekerja di kota yang merindukan bioskop. Maklum, setelah 20 tahun lebih sejak ada bioskop terakhir di Kota Pangkalpinang, Bangka, baru tahun 2016 ada pengusaha lokal kesambet setan Jakarta; membuka jasa tontonan yang modal investasinya diatas Rp5 Miliar itu. Nama Ajun sebenarnya Junaidi. Remaja ini lincah menyetir mobil yang saya tumpangi. Ajun bercerita, mengapa nama orang-orang Cina, maksudnya orang Tionghoa di Indonesia termasuk dirinya menggunakan awalan A. Sebenarnya Ajun cuma merespon pertanyaan saya yang iseng membuka obrolan di perjalanan dari Sungailiat menuju restoran terkenal di Pangkalpinang, Bangka malam itu. Mendengar jawaban singkat dan lugas dari Ajun, saya puas. Setidaknya, dia memahami apa yang dibutuhkan oleh client -nya. Bertele-tele atau berusaha sok ta...

Opiniku di Koran Tempo

OPINI SABTU, 06 DESEMBER 2014 FREE! Simalakama Badan Perfilman Indonesia Teguh Imam Suryadi, penulis Sejak dibekukannya Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) oleh pemerintah pada 2009, masyarakat film nyaris kehilangan harapan berpolitik. Namun, terbentuknya Badan Perfilman Indonesia (BPI) pada 17 Januari 2014 menumbuhkan harapan bahwa BPI akan menjadi episentrum bagi aktivitas tata kelola perfilman Indonesia pada hari ini dan masa depan. BPI yang diketuai Alex Komang memiliki daya rangkul lebih besar dibanding BP2N yang pernah dipimpin Slamet Rahardjo, Djonny Sjafruddin, dan terakhir Deddy Mizwar. Karisma BPI terlihat dari performanya yang muncul atas desakan sineas kelompok Indonesia Movie Pictures Association (IMPAss), yang merupakan embrio dari kelompok Masyarakat Film Indonesia (MFI). IMPAss terdiri atas sembilan organisasi pekerja film, yaitu Indonesian Film Directors Club (IFDC), Rumah Aktor Indonesia (RAI), Indonesian Motion Picture Audio Associ...