Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label film

"Manhattan Transfer" dan foto wartawan Amazon di "Warkop DKI Reborn 3"

Jelang tidur semalam, saya menyalakan Youtube , memutar lagu-lagu The Manhattan Transfer . Dari sekian lagu, Chanson D’Amour terasa melekat di hati; saya putar empatkali karena memenuhi unsur relaksasi. Lagu lainnya lebih dinamis dan kurang sopan memasuki gendang telinga diatas jam 12 malam. Kuartet Cheryl Bentyne, Tim Hauser, Alan Paul, dan Janis Siegel bernyanyi dengan teknik ‘memecah vokal’ mereka menjadi empat warna dalam satu tarikan harmonis, selaras. Asik. Lalu berharap, semoga bangun tidur pagi, badan segar kembali. Grup tone jazz asal Amerika bentukan tahun 1969 ini merupakan panutan grup dari Bandung, Elfa’s Singers dan juga Chaseiro . Gaya dan teknik bernyanyi Manhattan Transfer mereka transformasi menjadi skill khusus. Lima tahun lalu, saya senang mendengar CD MP3 kompilasi lagu-lagu lawas 1960an, di dalamnya termasuk lagu Chanson D’Amour . Grup ini pernah ke Jakarta beberapa kali, tampil di sejumlah kota di Indonesia tahun 1996. Konser pertama mereka wakt...

Jadwal Tayang Film dan Diskriminasi Bioskop

ADA lima film Indonesia yang tayang di bioskop saat musim libur Lebaran 2018. Kelima film itu  Jailangkung 2 (Sky Media dan Legacy Pictures), Kuntilanak (MVP Pictures), Insya Allah Sah 2 (MD Pictures), Dimsum Martabak (RA Pictures), dan Target (Soraya Intercine Films). Perolehan jumlah penonton kelima film tersebut, hingga Minggu (2/7/2018) memang belum mencapai angka maksimal seperti yang diharapkan meski secara komersial sudah terbilang break event point (BEP).   Dari berbagai sumber, data jumlah penonton 'Film Lebaran 2018'  bisa dilacak. Yang terbanyak penontonnya adalah Jailangkung 2 (1.411.041). Selanjutnya adalah Kuntilanak (1.165.280), Target (800.548), Insya Allah Sah 2 (422.319), Dimsum Martabak (352.883). Di luar lima film tersebut, ada dua film yang tayang bersamaan pada 28 Juni 2018, yaitu Kulari Ke Pantai produksi Miles Films (138.250) dan Rasuk produksi MD Pictures (278.275). Film Indonesia telah terbiasa menjadikan masa-masa libura...

Gaduh Beras Impor

Proses menanam padi di sawah Desa Simo,  Boyolali, Jawa Tengah. (tis)  Mendadak beras jadi isu nasional di antara ratusan berita di media massa dan media sosial. Mulai dari pejabat level menteri sampai petani bicara soal beras. Ada apa, gerangan? Konon stok beras Indonesia sudah menipis. Pemerintah tak mau terlihat kendor di hadapan hoaxer.  Isu ditepis terlanjur berkembang, rakyat meringis petani pun gamang. Sementara masih ramai berdiri warung Tegal, warung Padang, restoran siap saji, warung pecel lele, gerobak angkringan dan kafe-kafe penjual kuliner berbahan dasar beras. Saya sebetulnya  masa bodo amat . Selama beras (putih) bisa dibeli, tak perlu khawatir. Tapi kali ini urusan beras agak menghantui sejak melek mata sampai mau tidur. Bukankah selama ada tempat jajanan kuliner, itu pertanda Indonesia aman soal pasokan beras? Setidaknya ini pandangan awam saya. Belum lama di Papua, puluhan warga suku Asmat meninggal dunia akibat terserang campak dan g...

Film "Marlina" dan sup ayam yang mematikan

Film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak  bukanlah adaptasi kisah-kisah bijak di dalam buku laris "Chicken Soup for the Soul". Tapi ada kesamaan tentang kejutan dan pencerahan setelah menikmatinya (baca: menontonnya). Sup ayam racikan Marlina di film karya Mouly Surya ini lebih menyesapkan aroma dan panorama khas Sumba. Kearifan lokal ditampilkan berupa dialek para pemainnya juga busananya, utamanya kuda yang sangat ikonik. Marlina adalah perempuan mandiri dengan sedikit bicara. Diperankan aktris Marsya Timothy yang cenderung lebih terlihat bule dibandingkan perempuan lain di desa sepi itu. Sikap diam Marlina yang juga jarang tersenyum bukan tanpa alasan. Dia menyimpan luka dan duka, strategi, kepiluan, sekaligus kejengkelan terhadap lingkungan sosialnya; yaitu mahluk laki-laki bandit yang mengancam diluar sana. Tidak ada lelaki baik bagi Marlina saat ini, kecuali Topan anaknya yang tinggal nama di batu nisan. Suaminya juga mati, dan belum sempat dia kubur. Maya...

Tugas untuk Indonesian Movie Week di Kroasia

Surat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Zagreb, tiga bulan silam, saya terima sukacita. Surat berkop lambang burung Garuda itu berlapis empat, tentang rencana Indonesian Movie Week pada 2-10 Juni 2017 di Kroasia. Undangan belum dilengkapi  rundown , film peserta juga nama-nama delegasi, kecuali ittinerary yang bersifat umum. Adalah Bambang Drias, sutradara film yang pada pertemuan pertama kami untuk membahas  Ihwal Indonesian Movie Week, dia mengaku beberapa kali mengontak saya, tapi sulit terhubung. Ketika kami bersua, dia menjelaskan, bahwa IMW yang digagasnya itu mendapat respons dari KBRI Zagreb. Dia menerima mandat dari pihak KBRI Zagreb untuk membentuk pelaksana acara. Bambang merasa tak dapat bekerja sendiri, selain karena dia sudah punya jadwal syuting film terbarunya pada Juni 2017. Atas alasan tersebut, sutradara film Erau di Kota Raja, Gending Cinta di Tanah Turki, dan Promise itu meminta saya menggantikan tugasnya di IMW Kro...