Langsung ke konten utama

Postingan

Wisata Kelana "Glamping Lakeside" Rancabali

Hembusan angin dan gerimis pukul 04.30 WIB hari itu seperti menampar-nampar terpal dinding tenda (dome) tempat saya dan beberapa teman bermalam. Situasi itu memaksa kami terbangun satu persatu. Di layar smartphone saya lihat suhu udara "10 derajat Celcius".

Tenda berkapasitas huni 12 orang itu berukuran cukup luas sekitar
12 m x 10m. Di dalamnya terdapat 4 kasur yang cukup besar, bantal dan selimut. 

Tenda yang saya huni adalah satu dari 8 tenda di tepi danau Desa Rancabali, Bandung, Jawa Barat. Kawasan ini dikenal sebagai destinasi wisata Glamping (Glamourous Camping) Lakeside Rancabali.

Meski berupa tenda, fasilitasnya setara hotel bintang tiga bahkan bintang lima. Itulah mengapa tempat ini dinamakan kawasan wisata kelana (nomadic tourism).

Lokasinya jauh di pelosok gunung, jauh dari keramaian, menyatu dengan alam yang masih asri dan perawan.


Jika malam dan langit sedang cerah, bintang terlihat dekat. Di sisi lain, terlihat siluet gunung seperti menemani kami bermalam se…
Postingan terbaru

Putri Kampus Yang Tercecer

Setiap pagi pada semester awal ini, tugasku bertambah dan agak rutin; mengantar anak kedua (cewek) kuliah. Anak pertama, laki-laki sudah siap bikin skripsi. Dia membawa motor sendiri sejak awal kuliah di Jakarta Selatan. Anak ketiga, perempuan kelas III SD.

Sebenarnya ada banyak angkutan alternatif untuk sampai kampus, seperti angkot, metromini, ojek online, busway, dan kereta commuterline.

Hanya saja, soal waktu tempuh sulit diprediksi dan keburu lelah di jalan sebelum mencerna pelajaran. Lagi pula, pagi hari aku tak banyak aktivitas kecuali mencatat, menulis sesuatu. So, mari papa antar kau ke kampus. Si putri kampus belum sempat bikin SIM.

Jarak dari rumah ke kampus di Rawamangun relatif dekat, rata-rata 2 jam pergi-pulang.  Hanya perlu kesabaran jika terpaksa melintasi macetnya Jalan Raya Cakung yang sedang dalam pembangunan jalan layang. 
Sejak dua tahun terakhir, bangunan bahu jalan dari arah Kota Harapan Indah - Pulogadung dan sebaliknya bikin semua pelintas jalan lebih cepat …

Melongok Velodrome, Mengenang Tong Setan

Gedung Balap Sepeda Velodrome di Rawamangun, Jakarta Timur kini tampil megah memanjakan mata; berstandar internasional. Terkagum-kagum saya ketika pertama menginjakkan kaki di pintu masuk kawasan seluas 9,5 hektar itu pada Kamis, 11 Oktober 2018. Terakhir mampir ke tempat ini sekitar 1983, waktu pengambilan nilai olahraga di SMP.

Pada awal pembangunannya tahun 1973, Velodrome digunakan sebagai lintasan balap luar ruangan berstandar nasional. Menjelang perhelatan Asian Games 2018 tempat ini diruntuhkan dan dibangun-ulang. Lintasannya diformat untuk lomba di dalam ruangan, sepanjang 250 meter. 

Menyaksikan laga final balap sepeda antar penyandang disabilitas tingkat Asia pada gelaran Asian Para Games 2018 hari itu, posisi duduk saya merapat dengan batas arena balap. Duduk di zona tikungan memungkinkan untuk bersalaman dengan para pembalap.


Tikungan ini memiliki tingkat kemiringan 45 derajat. Dalam kondisi tertentu, kita bisa menyapa pembalap saat mereka melakukan selebrasi kemenangan. Nah,…

Cinta Rupiah Tanpa 'Tagar'

Tahun 1990an akhir, Indonesia mengalami krisis moneter yang memunculkan "Gerakan Cinta Rupiah". Gerakan dalam rangka merayakan 'krismon' itu imbas dari nilai tukar mata uang Amerika (dolar) yang jauh meninggalkan mata uang Republik Indonesia (rupiah).
Aksi massa itu dimotori sejumlah pengusaha, sosialita dan termasuk juga mbak Tutut, putri Presiden Soeharto. Tentu saja yang punya hak merayakan aksi menukar dolar ke rupiah adalah para pemilik tumpukan dolar. Mereka yang menyimpan mata uang Arab real, apalagi cuma beberapa lembar rupiah, dijamin gak bisa ikut-ikutan. 
Pada hari-hari aksi berlangsung, saya masih petantang-petenteng membawa kamera EOS inventaris kantor, lalu bikin tulisan dan foto untuk diserahkan ke redaktur Ekonomi atau Megapolitan di koran sore Harian Terbit (masih milik Poskota Grup). 
Bahan tulisan dan foto itu sebenarnya bukan penugasan dari redaktur, tapi inisiatif saya sebagai wartawan junior yang 'kurang kerjaan' saja sifatnya.

Tugas ut…

Jadwal Tayang Film dan Diskriminasi Bioskop

ADA lima film Indonesia yang tayang di bioskop saat musim libur Lebaran 2018. Kelima film itu  Jailangkung 2 (Sky Media dan Legacy Pictures), Kuntilanak (MVP Pictures), Insya Allah Sah 2 (MD Pictures), Dimsum Martabak (RA Pictures), dan Target (Soraya Intercine Films).

Perolehan jumlah penonton kelima film tersebut, hingga Minggu (2/7/2018) memang belum mencapai angka maksimal seperti yang diharapkan meski secara komersial sudah terbilang break event point (BEP).   Dari berbagai sumber, data jumlah penonton 'Film Lebaran 2018'  bisa dilacak.

Yang terbanyak penontonnya adalah Jailangkung 2 (1.411.041). Selanjutnya adalah Kuntilanak (1.165.280), Target (800.548), Insya Allah Sah 2 (422.319), Dimsum Martabak (352.883).

Di luar lima film tersebut, ada dua film yang tayang bersamaan pada 28 Juni 2018, yaitu Kulari Ke Pantai produksi Miles Films (138.250) dan Rasuk produksi MD Pictures (278.275).

Film Indonesia telah terbiasa menjadikan masa-masa liburan panjang, terutama libur har…

Digitalisasi Waktu di Masjid

Banyak masjid memasang alat penunjuk waktu jam digital di tembok, biasanya dekat mimbar atau podium.

Penunjuk waktu dengan angka-angka digital ini terasa lebih modern, lugas to the point ketika dilihat, dibandingkan jam konvensional dengan jarum penunjuk.

Maka solat berjamaah menjadi agak berbeda juga. Waktunya dihitung mundur. Seperti di masjid perumahan tempat saya tinggal.

Setiap selesai adzan dilakukan bilal, jam digital yang biasanya bergerak maju, disetting khusus agar bergerak mundur dari 10-9-8-7-6... dan seterusnya.  
Hitungan mundur selepas adzan berdurasi sekitar 5 menit. Sehingga jika jam menunjukkan angka 00.00 bilal harus lakukan iqomah tanda dimulai solat berjamaah.
Tetapi tak semua jemaah solat taat aturan. Ada saja diantara mereka yang mengabaikan hitungan mundur, tetap melakukan solat-solat sunnah. 
Waktu 5 menit sebenarnya cukup untuk melakukan solat sunnah sebelum yang wajib berjamaah. 
Jika habis batas waktu lima menit ini, otomatis alarm jam berbunyi dan jemaah …

Umat Islam, Kapan Kapokmu?

Bukan, ini bukan tulisan provokasi atau pertanyaan kritis dari non muslim. Ini pertanyaan wajar dan baek-baek saja, standar dan halus dari sesama muslim.

Umat Islam, memang ribet da, rame beud, seperti gak sembuh-sembuh. Ibaratnya luka memar di dengkul atau jidat, yang berkali-kali kejedot ujung pintu, tersenggol bajaj, atau kepentok stang motor. Bonyok.

Ramenya umat Islam diluar batas etika, moralitas dan akhlak. Kalau ramenya cuma di hari-hari dan bulan "reguler" sih, agak lumayan ada bagusnya. Lah, ini ramenya gak mengenal hari dan waktu keramat. Hajar teruusss..

Hari Jumat yang terbilang sakral pun, gak menggoyahkan "iman" untuk tidak saling caci (dan bersama pasangannya, maki). Bahkan, masya Allah di bulan puasa Ramadan tetap seperti itu keadaannya. Tidak peduli lagi pada esensi minimalis (apa coba maksud kalimat ini?) dari puasa: seperti menahan diri dari rasa marah, curiga, dan perdebatan yang gak penting. Hal lainnya masih bisa dijalankan, wong cuma memaha…

Ngaji Bersama Kelompok Garis Keras

SAYA sebal dan mengutuk aksi radikalisme yang mengorbankan anak-anak, apalagi demi membunuh mereka yang berbeda agama, dan mengatasnamakan bela agama. Radikalisme berpotensi memperkeruh kedamaian antarumat beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Kerusuhan di Markas Korsp Brigadir Mobil (Mako Brimob) Kelapadua, Depok, Selasa (8/5/2018) membetot perhatian saya dan kita semua. “Lima polisi gugur, seorang teroris tewas”. 

Kelima polisi itu disebut “mati syahid” oleh sebagian orang karena on dutymenjalankan tugas negara dan bekerja untuk keluarga. Saya setuju itu, dan ikut mendoakan semoga husnul khotimah

Apakah teroris yang tewas perlu didoakan? Saya ragu. Ragu apakah doa saya akan dikabulkan Tuhan, juga ragu pada keyakinan si teroris meski kemudian muncul perdebatan di ranah sosial, tentang keagamaan teroris. 

Dari Mako Brimob, aksi brutal sporadis teroris berlanjut di tiga gereja Surabaya (Minggu, 13/5/2018), Mapolrestabes Surabaya (Senin, 14/5/2018) dan Mapolda Riau (Rabu…

11 Tahun Kepergian Chrisye, Mengekalkan Daya Hidup Sang Legenda

Chrisye adalah legenda musik pop Indonesia. Kepergiannya 11 tahun silam ditangisi tak hanya oleh keluarga, tapi juga insan musik dan para penggemar setianya. Dunia hiburan musik berduka.

Pemilik nama asli Chrismansyah Rahadi itu berusia 57 tahun ketika berpamitan dari panggung dunia fana menemui sang khalik di anjangsana keabadian. Segudang cerita bersama tebaran wangi bunga mengiringi pelepasannya pada hari itu, Jumat tanggal 30 Maret 2007.

Kehidupan Chrisye bisa dibilang sangat mengharu-biru layaknya lagu yang melambungkan namanya,  Lilin-lilin Kecil. Dia berpendar-pendar. Kadang meredup tersaput angin, hingga membuat cemas banyak orang, dan menghangatkan suasana di waktu lain.

Di film biopik Chrisye (2017), sosoknya ditampilkan dengan cukup apik oleh aktor Vino G Bastian. Banyak hal yang selama ini tersembunyi di balik penampilan dan gaya hidup anak band, yang kemudian mendapat peluang menjadi penyanyi solo itu.

Sutradara Rizal Mantovani meracik film produksi MNC Pictures itu, dan…

Saat Joan & Ayu "Idol" nembang Come Together

Panggung Top 10 Spektakuler Show Indonesian Idol pada hari Selasa (13/2/2018) malam sangat berarti dengan penampilan duet Joan dan Ayu. Lagu Come Together milik The Beatles begitu segar mereka bawakan dengan karakter vokal berbeda.

Sajian malam itu benar-benar memanjakan alat pandang dengar penonton di dalam mau pun di luar studio.

Ada makna tersirat dari aksi Joan dan Ayu, yang menunjukkan semangat persatuan, kebersamaan, untuk menjadi yang terbaik; new Indonesian Idol!.

Panggung malam itu secara tidak langsung menjadi saksi betapa kuat sikap saling menjaga secara estetika dan artistik.

Joan menggebrak meraung di bait pertama (dari empat bait) lagu ciptaan John Lennon tersebut. Gadis berambut keriting kontestan asal Papua itu langsung menguasai panggung acara yang disiarkan oleh stasiun televisi RCTI.

Tubuh Joan relatif berat cukup sepadan dengan rasa percaya dirinya. Dia cantik lincah bergerak, enerjik dan tentu saja powerfull bernyanyi dengan langgam vokal gospel-nya yang sangat k…

Hidup Terkadang Ngehek, Kawan!

Tidak semua rencana yang kita rancang selalu berjalan linier. Sangat mungkin ada ganjalan. Sebab, roda kehidupan berputar.

Sebuah pesan Whatsapp, pada pertengahan Januari 2018 mampir di gawai cerdas saya. Isinya cukup membetot pikiran, seperti menjambak posisi dari tempat yang saya rasa cukup ideal selama belasan tahun di perfilman. Mungkin saya terlalu asik, atau terlena di dalamnya.

"Saya sudah dapetin fotomu dari facebook untuk dibikin ID Card. Tinggal foto KTP yang harus dikirim. Sekarang, ya," perintah tertulis dari Fawzie, teman lama di Harian Terbit.

Di koran sore milik Menteri Penerangan Harmoko -- sebelum dijual ke pihak lain tahun 2014 -- itu Fawzie bertugas di bagian pemasaran dan periklanan.

Sebuah foto ID Pers (kartu pengenal) menyusul dibawah "perintahnya". Kartu pengenal itu bertuliskan nama Koran OK OCE. 
Di bagian bawahnya terpasang foto close up wajah saya produksi tahun 2011. Lalu di bawahnya lagi tertulis nama dan jabatan: REDAKTUR PELAKSANA.

Su…

Merawat Ide Sejak Dalam Pikiran

Ketika mulai menulis ini, saya membayangkan suasana di dalam biskota Jakarta sebelum ada busway yang nyaman. Saya mengalami sebagai pengguna biskota waktu itu; gerah, penuh aneka aroma parfum dan bau badan. Semua bercampur aduk.

Penumpang bis adalah ide yang setiba di terminal (seperti Pulo Gadung) yang apatis dan berhamburan mencari udara segar. Penumpang meloncat berdesakan tak mau berlama di dalam bis. Sumpek!

Ide yang dibiarkan menumpuk berkerumun akan menjadi lumut, kering dan mati. Dia harus dikeluarkan agar mendapat oksigen dan tidak menjadi angan-angan kosong.

Seringkali gagasan muncul pada waktu dan tempat tidak tepat. Seperti halnya penumpang biskota tadi.

Jika datang ide biasanya saya salurkan ke dalam tulisan, senandung lagu-lagu dengan gitar. Prinsipnya ide harus diberi tempat.

Tapi tak selalu keberuntungan berpihak, seperti juga tidak selalu kemalangan setia datang menemani.

Tak jarang saya lihat kematian atas ide-ide saya sendiri. Kematian itu karena mereka melompat be…

Nongkrong Progresif With Bens Leo

Sebagai jemaah media sosial, sesekali saya berinteraksi dengan mas wartawan senior Bens Leo di jejaring facebook dan instagram.

Di luar pertemuan itu, sekelumit saja saya berjumpa dengan sosok yang sering menjadi narasumber berita musik itu.

Sejatinya, kesibukan beliau tak melulu di musik tapi juga di film dan kebudayaan. Aksesnya cukup luas sampai ke pejabat lingkaran tengah politik. Tapi passionnya tetap lebih di musik.

Minimal sebulan duakali kami bertemu baik sengaja atau tidak disengaja. Mohon dimaafkan..

Yang agak istimewa, pertemuan kami pada Kamis (1/2/2018) sore di Senayan City, Jakarta Selatan. Hujan baru selesai di luar sana. Saya diajak ngobrol lesehan di karpet selasar bioskop. Nongkrong genre progresif saya menyebutnya.

Ini pertemuan kesekiankali saya dengan mas Bens Leo (selanjutnya saya singkat dengan MBL) yang saya kenal sejak memasuki dunia wartawan tahun 1990an.

Saya masih unyu2 waktu itu,  MBL sudah seperti sekarang. Maksudnya, saya kenal dulu sampai sekarang MBL…