Langsung ke konten utama

Postingan

5000 Warga Ciputat Naik Busway Transjakarta

Silakan konfirmasi soal jumlah pengguna busway dari dan ke Ciputat, Tangerang Selatan setiap harinya. Data resmi dari bibir seorang petugas kondektur Transjakarta rute Bunderan Senayan - Ciputat menyebutkan, ada 5000 penumpang per hari di trayeknya.

Pada Senin (11/3/2019) malam, usai menghadiri screening film The Sacred Riana karya terbaru sutradara Billy Christian di Studio XXI Plaza Senayan, saya loncat ke halte busway Bundaran Senayan kemudian naik ke arah Ciputat.

Waktu pintu busway yang padat penumpang itu terbuka, kondektur menyembur keluar dan bersuara keras:

"Silakan masuk bagi yang merasa muda, kuat berdiri, dan langsing," kata petugas berseragam itu.

Saya dan rekan Herman Wijaya sudah berimpitan dengan para penumpang lainnya ketika pintu bus ditutup.

Informasi awal dari sang kondektur tadi sebenarnya terdengar agak lucu, tapi cukup tegas dan lugas.

Mengapa? Karena di dalam bus, selama perjalanan saya perhatikan para penumpang yang berdiri. Mereka cukup sadar untuk…
Postingan terbaru

Ketika Harus Bilang "Ya", Maka Rasakan Sensasinya

Ketika orang meminta kita mengerjakan sesuatu, itu adalah bentuk harapan dia terhadap kita. Lebih dari itu, saya anggap semacam doa. Maka, jangan ragu-ragu, iyain aja! Aminkan.

Beberapa kali saya diminta (didoakan) menyelesaikan sebuah tugas pekerjaan. Misalnya mengorganisir lebih dari satu bidang, yang melibatkan banyak orang.

Sewaktu bekerja di Harian Terbit, pihak manajemen koran milik grup Poskota itu menugaskan saya secara estafet sebagai korektor, staf sekretaris redaksi, juru foto, penulis kolom (Kopi Sore), dan reporter.









Sebagai  reporter, saya diminta oleh redaktur yang sibuk nyambi di luar kantorl, agar saya menjaga rubrik sekaligus perwajahan (lay out) dua halaman rubrik Hiburan. Saya berkutat di desk hiburan mulai 1995.

Jadi, selain menulis berita dari lapangan, saya juga kerjakan tugas redaktur yang ketika datang, dia tinggal kasih approavel sebelum hasil lay out naik ke percetakan.

Akibatnya, petugas layout man yang resmi pun sering ongkang-ongkang kaki, karena saya amb…

Ujian Penumpang Transjakarta di 'Jalur Neraka' Cakung

Siapa bilang naik busway Transjakarta nyaman? Cobalah tanya para penumpang moda transportasi modern itu, yang setiap hari melintasi 'jalur neraka', sepanjang jalan raya Cakung, Jakarta Timur.

Tanyakan kepada mereka yang tidak dapat tempat duduk, seberapa nestapanya berdiri selama 2,5 jam tanpa dapat melakukan hal apapun, kecuali sabar dan bertahan.

Seorang ibu membawa anak laki-lakinya berusia 8 atau 9 tahun, naik busway rute Asmi - Kota Harapan Indah pada hari Rabu (6/2/2019).

Mereka berdiri sepanjang jalan macet. Suasana stagnan itu kerap terjadi hampir selama tiga tahun terakhir. Truk dan kontainer dari kawasan Industri Pulogadung bersemuka dengan truk kontainer dari kawasan pergudangan di Jalan Cacing (Cakung Cilincing).

Kendaraan raksasa itu berebut tempat dengan mobil, dan motor di kawasan yang sedang dibangun infrastruktur jalan layang.

Bagi warga kebanyakan, termasuk ibu dan anaknya tadi, naik busway merupakan pilihan satu-satunya yang terbaik.

Busway memiliki sistem …

Syuting Bareng Tiga Wartawan Senior di Metro TV

Lantai 3 Studio Grand Metro TV pada Selasa (30/1/2019) siang mengingatkan saya pada artis musisi Ahmad Dhani, yang baru dipenjarakan atas kasus ujaran kebencian.

Tujuh tahun lalu, di acara 8-Eleven pada 3 Maret 2011 saya bertemu  dengan boss Republik Cinta Management itu, di obrolan membahas kekerasan yang dilakukan Dhani pada juru kamera infotainment dari Global TV. Sehari sebelumnya, Dhani dipanggil oleh Dewan Pers.

Diskusi hangat itu dipandu presenter cantik Marissa Anita dan si ganteng Tommy Tjokro. Saya diundang oleh Metro TV mewakili Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ditemani Eko Maryadi dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI).

Dhani mengaku tidak melakukan kekerasan seperti diberitakan media, dan dia punya tim infotainment sendiri yang dipeliharanya. Hanya saja tidak disebut mana saja infotainment binaannya itu.

Selesai syuting siaran langsung itu, kami berfoto ria. Tommy Tjokro yang memotret-kami pakai kamera handphone-nya lalu berjanji mengirim foto-foto itu. Saya tak pernah …

Buku Kecil, Teman Perjalanan Jarak Pendek

Awal Februari 2019, saya menghadiri acara syukuran pernikahan artis sinetron, yang belum saya kenal. Namanya Maya Yuniar.

Roby Bo, teman berprofesi model iklan, berbadan tambun, kepala botak dan berkumis mengajak saya ke acara yang berlangsung di Grand Sharon Residence, Bandung.

"Datang ya, bro. Hotel sudah disiapin buat lu nginep," kata Roby via Whatsapp, Jumat (1/2/2019) siang.
Saya menyanggupi datang. Tapi, malam itu harus nonton pentas Nyanyi Sunyi Revolusi, drama kisah sastrawan Amir Hamzah yang mati dibunuh entah oleh siapa di jaman pergerakan.
Sudah lama juga tidak main ke Gedung Kesenian Jakarta. Maka, malam itu saya abaikan rencana menginap di Bandung. Besok pagi saja berangkatnya, begitu pikir saya. 
Nyanyi Sunyi Revolusi dihadirkan oleh Titimangsa, brand milik artis Happy Salma. Sekarang, istri putra salahsatu raja Bali ini rajin memproduksi pentas kesenian dan teater. Dari beberapa produksinya, baru kali ini saya berhasil nonton. 
Ada Lukman Sardi pemeran Amir Ha…

Sudahkah Anda Nyanyi Lagu Wajib Pagi Ini?

Sepucuk surat imbauan resmi dari Kemenpora beredar kemarin. Surat ditujukan kepada calon penonton film di bioskop agar menyanyikan lagu wajib, lagu kebangsaan "Indonesia Raya".

Mengapa imbauan itu hanya di bioskop, mengapa tidak di tempat hiburan lainnya? Di kebun binatang Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah, misalnya. Atau tempat hiburan umum yang lebih privat, tempat karaoke, panti pijat dan sejenisnya, misalnya? Mengapa lagu itu harus dinyanyikan di awal, bukan di akhir film?

Imbauan itu terkesan genit semata, walau baik maksudnya. Mungkin supaya calon masyarakat penonton film di bioskop selalu sadar bahwa mereka masih bernegara dan tak lupa membawa rasa nasionalisme.

Atas nama nasionalisme, jangan-jangan imbauan itu muncul karena Kemenpora baru sadar, bahwa jumlah film impor jauh lebih banyak dari film Indonesia. Itu sangat telat!  Sebab, perbandingan kuoata film yang diatur UU No 33 tahun 2009 tentang Perfilman adalah 60:40 (film Indonesia vs film Impor). Tapi, yang te…

Insiden di Panggung Usmar Ismail Awards 2016

Malam penganugerahan Usmar Ismail Awards (UIA) 2016 berlangsung Sabtu, 2 April di Balai Kartini, Jakarta Selatan.

Sekitar jam 21.00 saya yang berada di luar studio, didatangi tim Trans7 (official beoadcast UIA) agar saya siap-siap maju ke panggung untuk mewakili almarhum SM Ardan yang malam itu mendapat Penghargaan Khusus dari Dewan Juri UIA sebagai Pewarta Film Pelestari Arsip Perfilman.

Saya sempat menolak, dan minta agar Kepala Sinematek Adisurya Abdy saja yang menerima, karena lebih tepat. SM Ardan lebih dari 22 tahun bekerja di pusat dokumentasi perfilman itu.
Tapi bang Adisurya juga tak ingin dirinya muncul. Akhirnya saya mengalah.

Untuk masuk ke studio tidak mudah meski saya punya ID ALL ACCESS. Ritual acara live televisi mengharuskan saya berdiri menunggu break, sebelum masuk segmen berikutnya.

Saya ditempatkan di barisan depan, persis di samping kanan Angga Dwimas Sasongko, sutradara film Surat Dari Praha yang semalam meraih tiga Piala Usmar Ismail Awards untuk katagori Sutr…

Kisah Hadirnya Wartawan di Usmar Ismail Awards

Koran Harian Terbit milik PT Surya Kota Jaya (Grup Poskota) berpindah tangan ke pengelola baru pada tahun 2014. Seluruh awaknya termasuk saya, yang selama 20 tahun lebih bekerja di sana mendapat uang sangu. Pembelinya adalah politisi partai Gerindra.

Manajemen koran sore yang sempat booming di awal 1990 (saat perang Teluk) dan terbit sejak tahun 1972 itu, salahsatunya teman lama saya. Sejak ada kabar akan terjadi eksodus karyawan dan wartawan, dia sering nelpon dan chat di BBM (Blackberry Messanger).

Dia ikut sibuk ketika proses awal 'pindah gerbong', dan minta rujukan tentang siapa saja yang bisa diangkut ke gerbong baru. Saya dianggap paham soal Sumber Daya Manusia. Hihi..

Berceritalah saya, dan dia percaya. Sepertinya. Dia ngasih kode, ada peluang posisi jadi redaktur kalau saya mau ambil. Akhirnya, dia tidak pernah nelpon atau kirim BBM karena saya tidak merespon secara saksama dan dalam tempo yang sesingkatnya. Tapi, ocehan saya tentang siapa saja personel yang perlu dia…

Menangis dan Tertawa Untuk "A Man Called Ahok"

Seberapa greget, lo? 
Gue mau nonton A Man Called Ahok, belum masuk bioskop sudah ada yang nangis..
                            ***
Film A Man Called Ahok (AMCA) tembus 1.009.303 penonton dalam hitungan sepekan (17 November 2018).

Film biopik tentang masa remaja Basuki Tjahaya Purnama -- Gubernur DKI Jakarta yang dijatuhkan secara politik -- arahan sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian si Boy, Pintu Harmonika, Noah Awal Semula) itu merupakan rival keras film Hanum dan Rangga, yangdibully olehnetizen akibat ulah Hanum Salsabiela Rais selaku penulis, yang menggiring persaingan kedua film ke ranah politik.

Hanum adalah anak biologis politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. Dia juga mewarisi darah ideologis politik orangtuanya. Sehingga, film garapan sutradara Benni Setiawan itu 'terbentur' urusan politik. Beberapa pekan sebelum film tayang, Hanum terjebak isu menyebarkan hoax dalam kasus 'pemukulan' Ratna Sarumpaet salahsatu anggota tim kampanye Prabowo-Sandi, y…

Wisata Kelana "Glamping Lakeside" Rancabali

Hembusan angin dan gerimis pukul 04.30 WIB hari itu seperti menampar-nampar terpal dinding tenda (dome) tempat saya dan beberapa teman bermalam. Situasi itu memaksa kami terbangun satu persatu. Di layar smartphone saya lihat suhu udara "10 derajat Celcius".

Tenda berkapasitas huni 12 orang itu berukuran cukup luas sekitar
12 m x 10m. Di dalamnya terdapat 4 kasur yang cukup besar, bantal dan selimut. 

Tenda yang saya huni adalah satu dari 8 tenda di tepi danau Desa Rancabali, Bandung, Jawa Barat. Kawasan ini dikenal sebagai destinasi wisata Glamping (Glamourous Camping) Lakeside Rancabali.

Meski berupa tenda, fasilitasnya setara hotel bintang tiga bahkan bintang lima. Itulah mengapa tempat ini dinamakan kawasan wisata kelana (nomadic tourism).

Lokasinya jauh di pelosok gunung, jauh dari keramaian, menyatu dengan alam yang masih asri dan perawan.


Jika malam dan langit sedang cerah, bintang terlihat dekat. Di sisi lain, terlihat siluet gunung seperti menemani kami bermalam se…

Putri Kampus Yang Tercecer

Setiap pagi pada semester awal ini, tugasku bertambah dan agak rutin; mengantar anak kedua (cewek) kuliah. Anak pertama, laki-laki sudah siap bikin skripsi. Dia membawa motor sendiri sejak awal kuliah di Jakarta Selatan. Anak ketiga, perempuan kelas III SD.

Sebenarnya ada banyak angkutan alternatif untuk sampai kampus, seperti angkot, metromini, ojek online, busway, dan kereta commuterline.

Hanya saja, soal waktu tempuh sulit diprediksi dan keburu lelah di jalan sebelum mencerna pelajaran. Lagi pula, pagi hari aku tak banyak aktivitas kecuali mencatat, menulis sesuatu. So, mari papa antar kau ke kampus. Si putri kampus belum sempat bikin SIM.

Jarak dari rumah ke kampus di Rawamangun relatif dekat, rata-rata 2 jam pergi-pulang.  Hanya perlu kesabaran jika terpaksa melintasi macetnya Jalan Raya Cakung yang sedang dalam pembangunan jalan layang. 
Sejak dua tahun terakhir, bangunan bahu jalan dari arah Kota Harapan Indah - Pulogadung dan sebaliknya bikin semua pelintas jalan lebih cepat …

Melongok Velodrome, Mengenang Tong Setan

Gedung Balap Sepeda Velodrome di Rawamangun, Jakarta Timur kini tampil megah memanjakan mata; berstandar internasional. Terkagum-kagum saya ketika pertama menginjakkan kaki di pintu masuk kawasan seluas 9,5 hektar itu pada Kamis, 11 Oktober 2018. Terakhir mampir ke tempat ini sekitar 1983, waktu pengambilan nilai olahraga di SMP.

Pada awal pembangunannya tahun 1973, Velodrome digunakan sebagai lintasan balap luar ruangan berstandar nasional. Menjelang perhelatan Asian Games 2018 tempat ini diruntuhkan dan dibangun-ulang. Lintasannya diformat untuk lomba di dalam ruangan, sepanjang 250 meter. 

Menyaksikan laga final balap sepeda antar penyandang disabilitas tingkat Asia pada gelaran Asian Para Games 2018 hari itu, posisi duduk saya merapat dengan batas arena balap. Duduk di zona tikungan memungkinkan untuk bersalaman dengan para pembalap.


Tikungan ini memiliki tingkat kemiringan 45 derajat. Dalam kondisi tertentu, kita bisa menyapa pembalap saat mereka melakukan selebrasi kemenangan. Nah,…

Cinta Rupiah Tanpa Tanda Pagar

Tahun 1990an akhir, Indonesia mengalami krisis moneter yang memunculkan "Gerakan Cinta Rupiah". Gerakan dalam rangka merayakan 'krismon' itu imbas dari nilai tukar mata uang Amerika (dolar) yang jauh meninggalkan mata uang Republik Indonesia (rupiah).
Aksi massa itu dimotori sejumlah pengusaha, sosialita dan termasuk juga mbak Tutut, putri Presiden Soeharto. Tentu saja yang punya hak merayakan aksi menukar dolar ke rupiah adalah para pemilik tumpukan dolar. Mereka yang menyimpan mata uang Arab real, apalagi cuma beberapa lembar rupiah, dijamin gak bisa ikut-ikutan. 
Pada hari-hari aksi berlangsung, saya masih petantang-petenteng membawa kamera EOS inventaris kantor, lalu bikin tulisan dan foto untuk diserahkan ke redaktur Ekonomi atau Megapolitan di koran sore Harian Terbit (masih milik Poskota Grup). 
Bahan tulisan dan foto itu sebenarnya bukan penugasan dari redaktur, tapi inisiatif saya sebagai wartawan junior yang 'kurang kerjaan' saja sifatnya.

Tugas ut…