Langsung ke konten utama

Postingan

Diplomasi pisang goreng tanduk Mpok Nur

Peter, Herman dan saya. (foto: Harris Jauhari) Kuliner Indonesia macam bakso, sate, dan nasi goreng dikenal di antero dunia berkat tebaran Presiden Amerika ke-44 Barrack Obama. Dua kali ke Indonesia di tahun 2010 dan 2017, Barry ikut mempopulerkan kuliner yang merakyat itu. Di tingkat nasional, komunikasi politik dilakukan petinggi partai Demokrat, Soesilo Bambang Yudhoyono saat menjamu ketua umum Gerindra Prabowo Subianto dengan menu utama nasi goreng pada Juli 2017 di Istana Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Ternyata diplomasi kuliner lumayan ampuh untuk mencairkan suhu maupun kebekuan politik. Dunia politik pun mengenal istilah "tak ada makan siang gratis". Meski bukan bagian dari agen politik negara, apalagi sampai punya agenda politik nasional, saya mendapat suguhan pisang goreng tanduk Mpok Nur di Manggarai saat dipertemukan dengan Peter de Meij, staff bidang hukum Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis di Jakarta. Pertemuan ini dicomblangi wartawan senior nan mahs...

Saya ini si gembala kambing

Meski bukan penggembala hewan ternak, saya punya kambing domba lebih dari 20 ekor pada bulan Djulhijah tahun 1437 Hijriyah atau tahun 2016. Awalnya tidak terfikir akan punya kambing sebanyak itu. Apalagi berencana menjadi peternak kambing, sama sekali tidak. Tetapi saya punya ikatan emosional dengan binatang ternak. Waktu kecil saya cukup akrab dengan dunia unggas, ayam kampung, peliharaan pakde di Tanjung Priok, Jakarta. Saat kelas I SD saya belajar memelihara dan memotong ayam dengan benar. Tentu tidak di posisi sebagai pemegang pisau. Saya terbiasa menahan gerakan ayam yang meronta saat mau disembelih dengan menyatukan erat kedua sayapnya. Ini adalah teknik kuncian paling manusiawi. Posisi kepala ayam harus menghadap kiblat, dan jangan lupa membaca basmalah dan mencabut beberapa helai bulu di leher ayam sebelum pisau memutus nadi dan urat leher ayam. Bukannya tidak takut melihat darah ayam muncrat dan mengalir di bilah pisau belati milik pakde. Selalu saya terpejam sebenta...

Lebaran Haji 1438 Hijriyah

Lebaran Haji, Iedul Qurban atau Iedul Adha pada 9 Djulhijah 1438 Hijriyah, di seluruh dunia dilaksanakan kompak hari Jumat, 1 September 2017. Pagi jam 06.30 WIB saya ikut merapatkan barisan bersama jemaah Masjid Al Ikhlas dekat rumah. Duduk bertakbir hingga datang waktu solat Ied. Ini mungkin sama seperti jemaah haji yang wukuf (diam berdoa) di Padang Arafah, Makkah. Bedanya, jemaah haji berkumpul di bawah terik matahari. Jemaah di sini duduk di dalam masjid berpendingin AC. Setan tidur pun leluasa menggoda iman. Di tempat saya tinggal, mayoritas adalah karyawan selain kalangan profesional sektor jual-beli (pedagang), dokter, guru, penjahit, dan beberapa orang tentara. Ini di Bekasi Utara. Masjid pagi ini fullbook , jemaah membludak keluar pagar masjid hingga bertambah tujuh shaf , diisi para jemaah muslimah. Ini selalu terjadi di setiap hari raya, termasuk Idul Fitri. Setelah solat dua rakaat dengan ketentuan, rakaat pertama 7 kali takbir dan rakaat kedua 5 kali takbir,...

Politik kecil wartawan tengil

Ngopi di Manggar, Belitung tahun 2011 Pada hari saya bertemu Andrea Hirata, novelis terkenal bertopi baretta di Bumi Laskar Pelangi, Belitung, itu pertemuan kesekian kalinya dengan si Ikal dalam cerita novel Laskar Pelangi karyanya yang sangat monumental. Novel itu menggerakkan hampir seluruh sudut kehidupan negeri, pasca difilmkan oleh Riri Riza dibawah perusahaan Miles Films milik Mira Lesmana. Seperti bola salju, hasil buah pikir dan endapan hati Andrea Hirata itu menggelinding bertenaga, menyumbangkan kebanggaan. Dan tentu saja pemerintah kota Belitung rela membukakan pelabuhan khusus bernama Pelabuhan Laskar Pelangi di Tanjung Pandan. Sehari setelah peresmian pelabuhan pada Sabtu, 11 Juni 2011, Andrea Hirata mengajak wartawan film dan kebudayaan. Saya diundang oleh penerbit buku, dan ikut menapaktilasi lokasi syuting film Laskar Pelangi di pantai Kelayang, serta menikmati hangatnya kopi Manggar di malam hari. Jamuan itu mengesankan, tapi saya lebih terkesan dan terke...

Murka tetua adat Kampung Melo, Manggarai-NTT

Rumah adat Melo milik tetua adat, Yosep Manggarai Barat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki pesona wisata yang terkenal hingga manca negara yaitu Pulau Komodo (Taman Nasional Komodo) dan Labuan Bajo, surga bagi penikmat wisata alam bawah laut. Selain kedua nama populer tersebut, ada kawasan yang tidak kalah memikat yaitu Kampung Adat Melo berjarak sekitar 40 km dari Labuan Bajo. Letak geografis Kampung Adat Melo berada di pegunungan dengan suhu udara antara 10 sampai 20 derajat. Kondisi ini lebih sejuk daripada suhu di NTT pada umumnya berkisar 33 hingga 34 derajat. Yosep menjaga adat hingga nanti Banyak hal menarik dari Kampung Adat Melo selain bangunan rumah panggung yang dihuni warganya. Di saat tertentu, tujuan wisata yang telah ditetapkan sebagai "Kampung Adat" ini menampilkan atraksi budaya, kerajinan tradisional tenun kain sarung, peci, tas serta makanan khas Manggarai.  Kampung Adat Melo berada persis di Desa Liang Ndara, K...

Sok kenal Najwa Shihab

Sebuah foto bukanlah gambar statis tak bermakna. Dia bisa jadi alat ukur derajat keakraban atau  chemistry seseorang pada orang lain di dalam satu frame .     Saya sering melihat pada berbagai kesempatan orang minta foto bareng tokoh atau selebriti, kemudian mengunggah foto itu ke media sosial. Bahkan yang lebih ekstrim, ada yang memakainya sebagai foto profile akun medsos dan Whatsapp .  Memamerkan foto sendiri atau bersama selebriti di medsos, pada kadar tertentu  dianggap bentuk kelainan jiwa narsisisme . Agama menyebut itu 'riya. Pamer ingin dipuji orang. Yang lain mengatakan, pamer foto pribadi di medsos, artinya mengkurasi kehidupan diri. Buat saya monggo aja selama tidak merugikan orang lain. Berfoto dengan siapapun, dimanapun adalah ekspresi pergaulan sosial jaman kiwari. Sebuah foto bahkan mampu bercerita.  Anggapan itu benar meskipun jika foto tanpa disertai teks, biasanya cuma bisa dikonsumsi oleh pemiliknya....

Berwisata ke Pulau Bokori di Kendari

Satu dari beberapa pulau kecil di kota Kendari, Sulawesi Tenggara menawarkan keindahan. Namanya Pulau Bokori. Pertamakali pada bulan Mei 2016 saya dengar nama itu. Sotoy saya mwnduga, pasti itu nama seorang laki-laki, semisal Bukhori atau sejenisnya, si pemilik pulau yang tenang dikepung laut biru itu. Ternyata saya salah. Sebutan nama pulau Bokori berasal dari bahasa Suku Bajo -- yang sempat bermukim selama puluhan tahun di sana. Asal katanya "boko" yang artinya penyu. Mungkin, dulunya banyak hewan laut penyu di kawasan seluas 18 hektar tersebut. Kedatangan saya ke Pulau Bokori tanpa perencanaan. Kunjungan itu cukup mendadak, untuk menghabiskan sisa waktu di hari terakhir menghadiri kegiatan sosialisai "sensor mandiri" oleh Lembaga Sensor Film (LSF) di Kendari. Saya bersama beberapa staf sekretariat LSF mengatur waktu secara mandiri untuk menikmati spot kawasan wisata terdekat dari Kendari. Masalah waktu harus kami perhitungkan, agar tidak terl...

Tugas untuk Indonesian Movie Week di Kroasia

Surat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Zagreb, tiga bulan silam, saya terima sukacita. Surat berkop lambang burung Garuda itu berlapis empat, tentang rencana Indonesian Movie Week pada 2-10 Juni 2017 di Kroasia. Undangan belum dilengkapi  rundown , film peserta juga nama-nama delegasi, kecuali ittinerary yang bersifat umum. Adalah Bambang Drias, sutradara film yang pada pertemuan pertama kami untuk membahas  Ihwal Indonesian Movie Week, dia mengaku beberapa kali mengontak saya, tapi sulit terhubung. Ketika kami bersua, dia menjelaskan, bahwa IMW yang digagasnya itu mendapat respons dari KBRI Zagreb. Dia menerima mandat dari pihak KBRI Zagreb untuk membentuk pelaksana acara. Bambang merasa tak dapat bekerja sendiri, selain karena dia sudah punya jadwal syuting film terbarunya pada Juni 2017. Atas alasan tersebut, sutradara film Erau di Kota Raja, Gending Cinta di Tanah Turki, dan Promise itu meminta saya menggantikan tugasnya di IMW Kro...

Nasihat orang gila - Cerpen

Aku orang gila bersertifikat resmi. Segala hal yang berkaitan dengan kegilaan adalah milik dan duniaku. Cap sebagai orang gila, yang ditunjukkan orang-orang, melalui sikap dan ucapan mereka kepadaku, adalah bentuk apresiasi yang membanggakanku. Kalau ada orang gila di jalanan, atau orang mengaku gila tapi tak bisa menunjukkan sertifikat kegilaannya, maka belum sah secara hukum. Sebagai orang gila yang berbadan hukum, tentu saja aku mendapatkan hak  previlage,  istimewanya kemudahan akses memasuki semua lini kehidupan sosial dan politik.  Kadar gilaku berbeda dengan kebanyakan orang gila. Itu bisa kubuktikan dengan sertifikat gila yang kumiliki. Apa aku bangga dengan kegilaanku, yang sudah mendapat pengakuan secara nasional? Yaiyalah. Sertifikat yang kuterima dari Asosiasi Orang Gila sudah kubingkai dengan cantik di dalam kaca bening, kupajang di tembok ruang tamu rumahku, supaya mereka yang datang tahu siapa aku sebenarnya. O, ya hampir saja lupa, ke...